Senin, 18 Mei 2015

Realita Perjuangan, HMI-MPO, Dan Perlawanan

Oleh : Asep Kurnia
Assalamua laikum, Wr, Wb.
Semoga rasa syukur kita tetap kepada nikmat yang  telah diberikan oleh Allah SWT, sehingga dalam proses menikmati  dan menggunakan nikmat yang diberikan, kita mampu mengambil hikmah atasnya. Shalawat dan salam tercurah kepada panutan kita seorang hamba pilihan yang cerdas dengan menggunakan segala kemampuannya sebagai manusia mampu menerjemahkan hal-hal yang batil menjadi haq, antara jahiliyah menjadi zakiyah, sehingga hari ini kita bisa menikmati manisnya kebebasan fikir dalam menerjemahkan apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan.
Pada kesempatan ini, oretan kusut yang jauh dari kerangka ilmiah, tidak salahnya kita masuk kepada telaah sederhana tentang kenyataan yang sedang dirasakan dan di hadapi dengan sebenar-benarnya tampa rekayasa yang bisa membohongi diri kita dan orang lain. Kembali oretan sederhana ini mengajak untuk memulai sebuah telaah sederhana, dengan landasan keyakinan
Realita Perjuangan.
Tentu keyakinan kita sangat teguh sebagai manusia yang memiliki peran strategis yakni mahasiswa islam sehingga tidak diragukan lagi tentang ajaran yang datang dari langit sebagai referensi dasar manusia yang menyakini kepada mono-theisme, sehingga sulit untuk menepis tentang pokok-pokok perbandingan yang diluar dari pemahamannya. Dengan demikian tulisan ini memulai dari firman Allah SWT dalam surat Al-Baqoroh ayat 30,: “ ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada paara  malaikat: “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “ mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa  bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’’ Tuhan berfirman:” sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Dasar inilah untuk kita masuk pada babak selanjutnya sebagai seorang kholifah di bumi, sehingga analisis sederhannya apakah kita bagian dari pemimpin yang dipimpin atau pemimpin dari seluruh pemimpin. Mono-theime adalah sebuah gambaran tidak ada yang kedua setelah-Nya, tetapi yang ahad atau tunggal menyertai pada-Nya. Artinya dunia ini menyuguhkan sebuah pilihan untuk memutuskan diri kita menjadi yang ahad (Terbaik) seperti fitrah Tuhan atau keluar dari pada kualifikasi atas-nya, atau menjadi pemimpin atau di pemimpin. dan semua itu tidaklah mudah seperti mengedipkan dua bola matan atau membalikan telapak tangan, ada yang harus dilakukan sebuah proses untuk sampai padanya yang dinamakan Perjuangan. Dalam dinamika itu perlu melihat dengan seksama dari berbagai sudut pandang  tentang realitas yang sedang dirasakan dan dihadapi. Dengan kesadaran itu  maka kita akan mampu menempatkan posisi kita dalam perjuangan untuk sampai pada tujuan kita.
Sebagai mahasiswa atau pemuda tidaklah kita seenaknya menikmati apa yang sekarang tersaji dengan mendelusi kekagungan kita terhadap pendahulu, baik pendahulu yang sudah tercatat sejarah atau pendahulu yang masih nampak yang ingin mencatatkan kesejarahannya di depan pandangan kita. Sunggu mereka sama dengan kita hari ini yang membedakan adalah keadaan jaman dan culture budaya dari masing-masing generasi. Sehingga perjuangan kita adalah kesejarahan kita sesuai zaman yang mengacu pada budaya sosiial yang sedang berkembang dan dan berprosen kepada budaya baru.
Disadari atau tidak budaya dari medan juang kita dewasa ini berubah secara drastis dan melaju secara cepat seiring dengan perkembangan zaman dari waktu kewatu. Jika saja delusi kekaguman menghinggapi presepsi kita dalam mentelaah perjuangan hari ini dengan mengukur secara rata bahwa ideologi organisasi sebagai visi juang kita tetap sama dari masa kemasa. Tetapi harus terpahami betul kondisi internal tidaklah akan mampu melaju dengan baik tampa memperhatiakan kondisi ekxternal. Bukankah islam zajirah arab berbeda dengan islam,nya nusantara, islamnya Indonesia akan berbeda dengan islamnya Malaysia, inggris bahkan di Negara liberal Amerika serikat dari kerangka taktis dan praktis, dengan kesimpulan bahwa kenapa harus ada mazhab iman Syafii, Maliki, Hanfi, dan  Hambali.
Perlu kita masuk kedalam kerangka teknis terhadap realita medang juang kita sebagai pemuda dan mahasiswa bahwa paska reformasi 20 mei 1988 kita masuk pada masa transisi demokrasi dengan munculnya budaya pragmatis-popularitas untuk masuk pada lepel kekuasan formal atau in-formal yang pada akhirnya kita melihat bahwa orang yang muncul kepermukaan public itulah yang menjadi pilihan taktis-pragmatis tampa mengkur kualitas, kapabilitas, dan intregritas serta kita di berikan contoh yang sangat mendalam pahitnya dengan terbuktinya para pejabat yang amoral dalam menjalakan kekuasaannya.
Setelah masa transisi demokrasi satu decade kita masuk pada lepel budaya yang lebih taktis-liberal, dengan masuknya kaum-kaum pemodal dalam upaya menguasai struktur kepemimpinan dengan satu pertentangan yang sama dengan tipologi dimasa transisi demokrasi yakni sebuah tindakan yang dinilai dari kerangka material. Selain itu kita disajikan contoh oleh budaya taktis-liberal adalah kebebasan untuk melakukan tindakan yang dibuat-buat dengan memasukan pada dugaan makna implisit hukum dalam perundang-undangan. Hal semacam ini bukan sebuah kemunduran melainkan implikasi dari era taktis-liberal atau saya sebut sebagai post-2015 dengan munculnya goncangan kriminalitas humanistic.
Post-2025 adalah sebuah budaya profesionalitas kerja, mungkin ini sebagai gambaran dasar bagi Negara Indonesia dan bangi para penggerak perubahan atau bangi plessure power community  atau bagi para mahassiwa yang terggabung dalam organisasi perkaderan dengan kernagka kerja regim dengan menggiatkan komposisi kerja-kerja pada miniature kekuasaan eksekutifnya sebagai kepala Negara dan kepala pemerintahan walau pun hasilnya hari ini hanya kerja untuk kepentingan kelompok dan asing, dan membiarkan masyarakat mengurung pada kemampuan masing-masing individu.
Kembali saya menyinggu, bukan contoh kecil pos-2015 yang di muka di munculkan, akan tetapi gambaran sederhan hari ini pada lepel dan medang perjuangan kita harus didasarkan pada profesionalitas gerakan, dengan kerangka kerja yang disiplin sesuai perencanaan dan tujuan yang ingin di capai tampa menghilangkan pengaruk atau kondisi eksternal yang sedang berkembang dan melaju kerah yang baru. Gambaran singkat tentang realitas budaya dewasa ini adalah upaya kita masuk pada kerangka analisis dasar terhadap realita perjuangan hari ini bagi para mahasiswa/pemuda yang tergabung dalam organisasi perkaderan secara kritis.  Sebagian gerakan sudah memampaatkan kesempatan ini sejak transisi demokrasi Negara paska reformasi, tidak lagi berbicara perlawanan terhadap penguasa melainkan berupaya merebut struktur kekuasaan dengan beragam methode untuk bisa sampai pada tujuan itu (kerangka nilai untuk membatasinya disesuaikan dengan ideology organisasinya). Mengusung kadernya, serta menempatkan kadernya  adalah upaya membangun kantong masa dan kekuatan di semua sector adalah keharusan untuk merebut struktur kekuasaan yang hari ini di pegang oleh orang-orang yang tidak sesuai dengan visi perjuangan kita. Bukankah ajaaran langit mengarahkan hal ini bagi para wakil dimuka bumi dengan muncul hadis dari manusia terpilih dan terjaga dari kesalah “ Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu berusaha merubahnya”.
Pemikiran ini akan berimplikasi pada  dinamika organisasi bahkan akan menuai konflik manakala presepsi tidak terkomunikasikan dengan baik, serta tidak mau membuka kerangka pikir yang objektif bukan subjektif-emosi. Sebagai pemahaman subjektif dari kaderisasi yang selama ini diikuti bahwa ada kata independensi yang menjadi ujung prisai seorang pemuda atau mahasiswa untuk mempertahankan idealime sehingga dalam hal ini harus disampaikan bahwa keyakinan ini tentang independensi adalah bersamaan terhadap kebenaran mutlak, atau keberpihakan kepada orang-orang yang benar yang di lihat dari kerangka objektif bukan kerangka subjektif-emosional. Bersama kebenaran mutlak buka separuh dari nilai kebenaran melainkan secarak keseluruhan tentang muatan kebenaran baik dalam kerangka dasar dzikir, fikir, dan ikhtiar. Dan semua ini tergantung dari pemahaman seorang terhadap ideology yang diyakini organisasinya, atau cara pandang tentang eksitensi nilai trasenden dan kenyataan nilai social.
Dengan kemapanan intelengensi akan mampu memaknai kapan berfikir dan kapan bertinda tanpa komando dan intervensi siapapun untuk mewujudkan visi perjuangan sesuai konten situasi dan kondisi yang telah di sepakati. Tentunya hal ini sebagai penegas bahwa kata sepakat tentang visi  dan misi yang di tentukan untuk sampai pada tujuan yang direncanakan adalah hal yang bisa menjadi kekuatan untuk membangun komunikasi dan menguatkan solideritas atas kesepaham bersama bukan personal. Sehingga pada akhirnya langkah taktis yang harus kita ambil, rencanakan, dan  lakukan dalam gerakan ini, untuk keluar dari permasalahan yang selama ini selalu muncul dari tahun ketahun, dari masa kepengurusan kemasa kepengurusan berikutnya (to continue of the clasik culture)

HMI-MPO dan Perlawanan
Letak kesejarahanlah yang menjadi keyakinan besar sebuah komunitas atau association dalam cara cara pandang terhadap keyataan yang berhadapan dengannya, adakalanya keyataan itu selaras dengan prinsif dan sesekali menjadi dinamika benturan dalam berfikir. Seolah kesejarahan adalah hal yang mutlak yang tidak bisa tergantikan tanpa melihat perubahan budaya yang cepat dewasa ini sehingga cara pandang akan menyempit dan berubah dengan lahirnya gerakan perlawan yang menjadi benturan budaya yang bisa menelan waktu dan tenaga serta momen kesejarahan baru yang tidak efektif dan efesien.
Kesejran HMI-MPO adalah kesejarahan monumental dalam gelanggang pergerakan mahasiswa islam Indonesia yang berdiri dua tahun setelah Negara ini lahir, dengan satu pembuktian terhadap independensi yang berpihak kepada kebenaran Tauhid, dengan tidak meninggalkan penglihatan terhadap kerangka taktis yang di buat oleh tokoh-tokoh sejarah dijamannya, dengan usaha mengapiliasi dirinya secara personal yang masuk pada gerakan diaspora dengan membuat sayap gerakan baru terhadap komunitas atau lembaga yang belum tercium gerakanny oleh badan intelejen Negara saat itu, dengan maksud untuk sampai pada cita-cita melawan, meruntuhkan kezaliman dizamannya. Tentunya sekarang harus menjadi kajian bersama tentang gerakan HMI-MPO yang tidak memiliki posisi stategis pada lembaga formal, dan informal dengan satu komparasi budaya yang berkembang dewasa ini. Memang betul organisasi yang kita berhimpun meletakan dasar dari cita-cita gerakannya adalah organisasi perkaderan dan perjuangan, secara hakikat berbagai pandangan dari kader HMI-MPO tentanggnya sudah terbukukan, melainkan ada satu hal yang harus kita afirmasi tentang gerakan HMI-MPO dalam pola perkaderan dan perjuangan dewasa ini. Perlawan terhadap regim penguasa harus di barengi dengan upaya lain yang lebih efektif dan efesien mencapai titik pencapaian yang menjadi cita-cita besarnya.
Selain itu, juga perlu upaya pendelegasian atau memposisikan kader himpunan disetiap bidang sesuai kerangka akademis yang di ambil dalam strata satu seta menguatkan jaringan perkaderan lintas generasi sejak paska menjadi kader aktif dikepengurusan, samapai hari ini belum nampak dari himpunan yang ada kita didalamnya melakukan langkah seperti itu, padahal peluang dalam social masyarakat kita untuk memberikan kontribusi upaya melakukan perubahan adalah nilainya sama, seimbang, sehingga seluruh manusia dalam hal ini mahasiswa yang bergelut dalam kaderisasi organisasi meilikipeluang yang sama tinggal sejauh mana kader atau struktur sitem perkaderan itu menjembataninya. Permasalahan yang dihadapi oleh perkaderan himpunan adalah tidak terpahami dan terinternalisasi doktrin konsep, teori, dan implentasi dari konsep pola perkaderan yang diyakini sangat paripurna jika di komparasikan dengan pedomana perkaderan sebelumnya.
Ketidak terpahaminya kerangka konsep, teori dan implentasi dalam perkaderan himpunan diakibatkan lemahnya pemaham dan pengutan intelegensi kader sehingga mengiternalisasi muatan nilai dan konsep yang sesuai dengan kesanggupan fikir dan dzikirnya. Sehingga hal-hal yang paling hakikat yang menjadi rukh perkaderan terabaikan, jika di korelasikan dengan budaya masyarakat hari ini yakni manusia yang mengaku islam tetapi tidak bersikap dan bertindan sesuai nilai yang ada dalam islam, pola fikir tidak sesuai dengan apa yang dibangun oleh islam yang ber dasar pada ajaran Tuahan dari langit. Bukankah manusia terbaik itu adalah manusia yang perkataannya sesuai dengan perbuatannya, pemikirannya sesuai konsep ke-Tauhidan, dan bukankan Allah SWT membanci orang yang berkata tidak sesuai perkataannya. (Ash-Shaf ayat 3-4); ”amat  besar kebencian di sisi Allah SWT bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan, sesungguhnya Allah SWT menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu banguan yang tersusun kokoh”.
Amanat Al-quran sebagai petunjuk sampai akhir jaman yang mana kita berpegang teguh terhadapnya, maka kita tidak akan tersesat sama sekali, tetpi ketika kita membiaskannya maka keburaman dan kebutaanlah akan menghinggapinya sehingga tercatat menjadi orang yang munafik, sehingga dari dua ayat diatas memberikan gambaran bahwa memahami kedirian dengan konsiten dengan melaksanakan atas pemahaman yang kita yakini kebenarannya serta keharusan kepada satu jalan yang lurus dengan shaff (barisan) yang kokoh, sehingga akan memiliki arti yang integral bahwa satu kebaikan yang di organisir dengan keikhlasan, ukhuwah, dan kesabaran akan menumbangkan sebuah tirani yang zolim dan lalim. Perlawan himpunan hari ini kebagi kepada dua hal sebagai kenyataan yang harus di afirmasi secara seksama dan secara kritis oleh seluruh kader jika mau keluar dari zona mendelusi kekaguman tentang masa kelam tampa melihat peluang dan tantangan masa depan.
 Perlawanan kita hari ini adalah perlawanan kepada kebiasaan kita yang sempit, sempit membaca gagasan atau diskursus yang muncul dalam tulisan klasik dan kontemporel dari berbagai pandangan disiplin ilmu, serta sempit membaca keadaan dan kondisi yang hari ini berkembang. Kemudian perlawan itu tidak laing adalah nafsu pada diri yang terdalam yang dikomulatif menjadi wacana  besar yang dinamkan kemalasan dan kelalaian. Bukannya orang yang celakan dalam shalatnya adalah orang-orang yang lalai sebagai mana dalam frman Allah SWT dalam surat Al-Maun : “celakalah orang yang shalat, yakni ; orang-orang yang lalai dalam salatnya’’.
Diakhir oretan sederhana ini, ada upaya yang diinginkan adalah mengajak kepada semua kader himpunan, para mahasiswa dan pemuda untuk segera menetapkan langkah strategis-idealis dan taktis-idealis dalam gerakannya di semua lepel perkaderan dan kepengurusan upaya menyiapkan sumberdaya manusia secara intelektual, emosional, dan spiritual untuk memotong kompas gerakan di awal post-2015 ini sehingga kita sebagai penggiat social dan penggerak perubahan atau pleassure power community bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan Komentar anda